26 Mac 2011

Ceramah Palestin: Kemenangan Yang Semakin Hampir

Assalamualaikum,

Fahami isu sebenar rakyat Palestin MENGAPA IANYA PENTING kpd kita/umat Islam seluruhnya. Sehubungan itu muslimin & mulimat di jemput hadir pada tarikh, masa dan tempat seperti berikut :

Tarikh : 26 Mac 2011 / 21 Rabiulakhir 1432H (Sabtu)

Masa : Selepas Maghrib

Tempat : Masjid Al-Ehsaniah, Kg. Melayu Batu 16, Rawang.

Penceramah : Dr Hafizi Mohd Nor, Ahli Lembaga Pemegang Amanah Aqsa Sharif

Ceramah akan disampaikan dengan maklumat/audio visual yang terkini. Tabung derma juga akan diedarkan.





25 Mac 2011

Panduan Mudah Mencari Ayat Dan Kata Dalam Al-Quran

Assalamualaikum. Di sini saya ingin kongsikan 'Indeks Al-Quran' iaitu satu perisian yang memudahkan kita untuk mencari ayat dan kata di dalam Al-Quran. Untuk menggunakannya anda perlu muatturun terlebih dahulu perisian tersebut. Semoga bermanfaat.

Nama Perisian : Indeks Quran
Platform : Microsoft Excel
Saiz : 2805 KB / 2.73 MB

Klik gambar di bawah atau sila ke ruangan Muat Turun Fail untuk muatturun 'Indeks Al-Quran'.





24 Mac 2011

Golongan Yang Masuk Syurga Tanpa Hisab


Terdapat 70,000 umat Muhammad s.a.w yang dapat masuk syurga tanpa hisab dan tiada azab. Ini bersumberkan hadis yang diriwayat Bukhari dan Muslim bersumber daripada Ibnu Abbas r.a. Muka mereka bercahaya seperti bulan purnama. Mereka adalah:

1. Ahl al-fadl (ahli kemuliaan) - orang yang menanggung kesakitan apabila diperbodohkan, bersabar apabila dizalimi dan memaafkan apabila dilakukan kejahatan terhadap mereka.

2. Ahli as sabr (ahli kesabaran) - bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menghindarkan maksiat terhadap-Nya.

3. Jiran-jiran Allah - saling berziarah dalam berkasih-sayang kerana Allah, duduk dan bangun bersama-sama saudara mereka kerana Allah. (hadis riwayat Abu Nu’aim daripada Ali bin Husain)

4. Orang yang mati dalam perjalanan ke Mekah samada pergi atau balik. (hadis riwayat Jabir)

5. Penuntut ilmu, perempuan yang taat kepada suami dan anak yang berbakti kepada ibu bapa (hadis marfu’ sumber Abu Ayyaub al-ansari)

6. Sesiapa yang berjalan kerana hendak menunaikan hajat saudaranya yang muslim sehingga tertunai hajat itu dan meninggal dalam masa tersebut. (hadis marfu’ sumber daripada Anas)

7. Sesiapa yang mengasuh kanak-kanak sehingga berupaya mengucapkan ‘lailahaillallah” (hadis sumber daripada A’isyah r.a)

8. Orang islam lelaki dan perempuan yang mati pada malam dan siang hari Jumaat (hadis marfu’ sumber daripada ‘Ata’)

9. Hamba yang bersabar apabila diuji dengan bala bencana pada tubuhnya dan anaknya (hadis marfu’ riwayat Hakim at-Tirmidzi)

10. Orang yang menggali perigi di tengah padang dengan penuh keimanan dan mengharapkan ganjaran Allah (Ibn Mas’ud)

Al-Hakim dan al-Baihaqi mengeluarkan hadis yang bersumber daripada Jabir secara marfu’:
“Barangsiapa yang lebih kebajikannya atas kejahatannya, maka mereka itulah yang masuk ke syurga tanpa hisab, dan barang siapa yang sama kebajikannya dan kejahatannya maka mereka itulah yang dihisabkan dengan hisab yang sedikit, dan barang siapa yang kejahatannya lebih banyak, maka dialah yang diberikan syafaat setelah menerima siksaannya.”
**Sumber daripada buku Misteri di Sebalik Tiupan Sangkakala saringan daripada kitab At-Tazkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah oleh Imam al-Qurtubi dan Kasyful Ghummah pada menyatakan orang mati & hal hari kiamat oleh Syeikh Daud al-Fatani yang disusun oleh Muhammad Ramzi Omar.




23 Mac 2011

Aku Ingin Bertaubat, Tetapi...

“Aku ingin bertaubat hanya saja dosaku terlalu banyak. Aku pernah terjerumus dalam zina. Sampai-sampai aku pun hamil dan sengaja membunuh jiwa dalam kandungan. Aku ingin berubah dan bertaubat. Mungkinkah Allah mengampuni dosa-dosaku?!”

Sebagai nasihat dan semoga tidak membuat kita berputus dari rahmat Allah , cubalah kita lihat sebuah kisah yang pernah disebutkan oleh Nabi SAW berikut ini. Semoga kita dapat mengambil pelajaran-pelajaran berharga di dalamnya.



Kisah Taubat Pembunuh 100 Jiwa

Kisah ini diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri R.A. sesungguhnya Nabi SAW bersabda yang bermaksud,

“Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, ”Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Rahib pun menjawabnya, ”Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.” Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya.

Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim tersebut, ”Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya masih diterima?” Orang alim itu pun menjawab, ”Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah SWT, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.”

Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, ”Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah ”. Namun malaikat adzab berkata, ”Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun”. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ”Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya,ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.”

Pengajaran Dari Hadis :

Pertama: Luasnya Ampunan Allah

Hadits ini menunjukkan luasnya ampunan Allah . Hal ini dikuatkan dengan hadits lainnya. Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman yang bermaksud:
”Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”
Kedua: Allah Akan Mengampuni Setiap Dosa Meskipun Dosa Besar Selama Mau Bertaubat

Selain faedah dari hadits ini, kita juga dapat melihat pada firman Allah SWT yang bermaksud,
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah . Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az Zumar: 53)
Ibnu Katsir mengatakan,

”Ayat yang mulia ini berisi seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat baik kekafiran dan lainnya untuk segera bertaubat kepada Allah . Ayat ini mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang ingin bertaubat dari dosa-dosa tersebut, walaupun dosa tersebut amat banyak, bagai buih di lautan. ”

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan mengampuni setiap dosa walaupun itu dosa kekufuran, kesyirikan, dan dosa besar (seperti zina, membunuh dan minum minuman keras). Sebagaimana Ibnu Katsir mengatakan,

”Berbagai hadits menunjukkan bahwa Allah mengampuni setiap dosa (termasuk pula kesyirikan) jika seseorang bertaubat. Janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah walaupun begitu banyak dosa yang ia lakukan karena pintu taubat dan rahmat Allah begitu luas.”

Ketiga: Janganlah Membuat Seseorang Putus Asa Dari Rahmat Allah

Ketika menjelaskan surat Az Zumar ayat 53 di atas, Ibnu Abbas mengatakan,

“Barangsiapa yang membuat seorang hamba berputus asa dari taubat setelah turunnya ayat ini, maka ia berarti telah menentang Kitabullah ‘azza wa jalla. Akan tetapi seorang hamba tidak mampu untuk bertaubat sampai Allah memberi taufik padanya untuk bertaubat.”

Keempat: Seseorang Yang Melakukan Dosa Beberapa Kali Dan Ia Bertaubat, Allah Pun Akan Mengampuninya

Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits lainnya, dari Abu Huroiroh, Rasulullah SAW bersabda yang diceritakan dari Rabbnya ‘azza wa jalla yang bermaksud,
“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu dia mengatakan "Ya Allah , ampunilah dosaku". Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, "Wahai Rabb, ampunilah dosaku". Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, "Wahai Rabb, ampunilah dosaku". Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.”
An Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ‘beramallah sesukamu’ adalah selama engkau berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu.

An Nawawi mengatakan,

”Seandainya seseorang berulang kali melakukan dosa hingga 100 kali, 1000 kali atau lebih, lalu ia bertaubat setiap kali berbuat dosa, maka pasti Allah akan menerima taubatnya setiap kali ia bertaubat, dosa-dosanya pun akan gugur. Seandainya ia bertaubat dengan sekali taubat saja setelah ia melakukan semua dosa tadi, taubatnya pun sah.”

Ya Rabb, begitu luas sekali rahmat dan ampunan-Mu terhadap hamba yang hina ini …

Kelima: Diterimanya Taubat Seorang Pembunuh

An Nawawi rahimahullah mengatakan,

”Ini adalah madzhbab para ulama dan mereka pun berijma’ (bersepakat) bahwa taubat seorang yang membunuh dengan sengaja, itu sah. Para ulama tersebut tidak berselisih pendapat kecuali Ibnu ‘Abbas. Adapun beberapa perkataan yang dinukil dari sebagian salaf yang menyatakan taubatnya tidak diterima, itu hanyalah perkataan dalam maksud mewanti-wanti (berulang, Eng: repeatedly, time after time ) besarnya dosa membunuh dengan sengaja. Mereka tidak memaksudkan bahwa taubatnya tidak sah.”

Keenam: Orang Yang Bertaubat Hendaknya Berhijrah Dari Lingkungan Yang Jelek

An Nawawi mengatakan,

”Hadits ini menunjukkan orang yang ingin bertaubat dianjurkan untuk berpindah dari tempat ia melakukan maksiat.”

Ketujuh: Memperkuat Taubat Yaitu Berteman Dengan Orang Yang Sholih

An Nawawi mengatakan,

”Hendaklah orang yang bertaubat mengganti temannya dengan teman-teman yang baik, sholih, berilmu, ahli ibadah, waro’dan orang-orang yang meneladani mereka-mereka tadi. Hendaklah ia mengambil manfaat ketika bersahabat dengan mereka.”

Nabi SAW juga mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasihati kita yang bermaksud,
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.”
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan,

“Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”

Kelapan: Keutamaan Ilmu Dan Orang Yang Berilmu

Dalam hadits ini dapat kita ambil pelajaran pula bahwa orang yang berilmu memiliki keutamaan yang luar biasa dibanding ahli ibadah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya, dari Abu Darda’, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud,
”Dan keutamaan orang yang berilmu dibanding seorang ahli ibadah adalah bagaikan keutamaan bulan pada malam purnama dibanding bintang-bintang lainnya.”
Al Qodhi mengatakan,

”Orang yang berilmu dimisalkan dengan bulan dan ahli ibadah dimisalkan dengan bintang karena kesempurnaan ibadah dan cahayanya tidaklah muncul dari ahli ibadah. Sedangkan cahaya orang yang berilmu berpengaruh pada yang lainnya.”

Kesembilan: Orang Yang Berfatwa Tanpa Ilmu Hanya Membawa Kerusakan

Lihatlah bagaimana kerusakan yang diperbuat oleh ahli ibadah yang berfatwa tanpa dasar ilmu. Ia membuat orang lain sesat bahkan kerugian menimpa dirinya sendiri. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Umar bin ‘Abdul ‘Aziz yang bermaksud,

”Barangsiapa beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada perbaikan yang dilakukan.”

Syarat Diterimanya Taubat

Syarat taubat yang mesti dipenuhi oleh seseorang yang ingin bertaubat adalah sebagai berikut:

Pertama: Taubat dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk atau untuk tujuan duniawi.

Kedua: Menyesali dosa yang telah dilakukan sehingga ia pun tidak ingin mengulanginya kembali.

Ketiga: Tidak terus menerus dalam berbuat dosa. Maksudnya, apabila ia melakukan keharaman, maka ia segera tinggalkan dan apabila ia meninggalkan suatu yang wajib, maka ia kembali menunaikannya. Dan jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf.

Keempat: Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut lagi karena jika seseorang masih bertekad untuk mengulanginya maka itu pertanda bahwa ia tidak benci pada maksiat.

Kelima: Taubat dilakukan pada waktu diterimanya taubat yaitu sebelum datang ajal atau sebelum matahari terbit dari arah barat. Jika dilakukan setelah itu, maka taubat tersebut tidak lagi diterima.

Inilah syarat taubat yang biasa disebutkan oleh para ulama.

Penutup

Saudaraku yang sudah bergelimang maksiat dan dosa. Kenapa engkau berputus asa dari rahmat Allah? Lihatlah bagaimana ampunan Allah bagi setiap orang yang memohon ampunan pada-Nya. Orang yang sudah membunuh 99 nyawa + 1 pendeta yang ia bunuh, masih Allah terima taubatnya. Lantas mengapa engkau masih berputus asa dari rahmat Allah?!

Orang yang dulunya bergelimang maksiat pun setelah ia taubat, bisa saja ia menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Ia bisa menjadi Muslim yang sholih dan Muslimah yang sholihah. Itu suatu hal yang mungkin dan banyak sekali yang sudah membuktikannya. Mungkin engkau pernah mendengar nama Fudhail bin Iyadh. Dulunya beliau adalah seorang perampok (perompak). Namun setelah itu bertaubat dan menjadi ulama besar. Itu semua karena taufik Allah. Kami pun pernah mendengar ada seseorang yang dulunya terjerumus dalam maksiat dan pernah menzinai pacarnya. Namun setelah berhijrah dan bertaubat, ia pun menjadi seorang yang alim dan semakin paham agama. Semua itu karena taufik Allah. Dan kami yakin engkau pun pasti bisa lebih baik dari sebelumnya. Semoga Allah beri taufik.

Ingatlah bahwa orang yang berbuat dosa kemudia ia bertaubat dan Allah ampuni, ia seolah-olah tidak pernah berbuat dosa sama sekali. Dari Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdillah dari ayahnya, Rasulullah SAW bersabda,
”Orang yang bertaubat dari suatu dosa seakan-akan ia tidak pernah berbuat dosa itu sama sekali.”
Setiap hamba pernah berbuat salah, namun hamba yang terbaik adalah yang rajin bertaubat.

Dari Anas, beliau SAW bersabda,
“Semua keturunan Adam adalah orang yang pernah berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat.”
Orang yang bertaubat akan Allah ganti kesalahan yang pernah ia perbuat dengan kebaikan. Sehingga seakan-akan yang ada dalam catatan amalannya hanya kebaikan saja. Allah SWT berfirman,
”Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Furqon: 70)
Al Hasan Al Bashri mengatakan;

”Allah akan mengganti amalan kejelekan yang diperbuat seseorang dengan amalan sholih. Allah akan mengganti kesyirikan yang pernah ia perbuat dengan keikhlasan. Allah akan mengganti perbuatan maksiat dengan kebaikan. Dan Allah pun mengganti kekufurannya dahulu dengan keislaman.”

Sekarang, segeralah bertaubat dan memenuhi syarat-syaratnya. Lalu perbanyaklah amalan kebaikan dengan melaksanakan yang wajib-wajib dan sempurnakan dengan shalat sunnah, puasa sunnah dan sedekah, karena amalan kebaikan niscaya akan menutupi dosa-dosa yang telah engkau perbuat. Rasulullah SAW pernah memberikan sebuah nasihat berharga kepada Abu Dzar Al Ghifariy Jundub bin Junadah,
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.”
Semoga Allah menerima setiap taubat kita. Semoga Allah sentiasa memberi taufik kepada kita untuk menggapai redha-Nya.

Dipetik dari : muslim.or.id

* Artikel Berkaitan : "Sayyidul Istighfar (Penghulu Istighfar)"


22 Mac 2011

Apakah Sebenarnya 'TAQWA' ?


TAQWA bukan setakat melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan الله. Bukan setakat menunai ketaatan dan menjauhkan kemaksiatan. Bukan juga setakat meninggalkan apa yang haram dan menunaikan apa yang fardhu. Bukan setakat menjauhkan yang syirik dengan beramal dan taat kepada الله. Bukan setakat menjauhkan diri dari segala apa yang akan menjauhkan diri kita daripada الله. Bukan setakat menghadkan diri kepada yang halal sahaja dan bukan setakat beramal untuk menjuruskan ketaatan kepada الله semata-mata.


Takrif TAQWA

Bila disebut TAQWA, kebanyakkan dari kita memahaminya sebagai takutkan الله. Takut kepada الله hanyalah satu daripada sifat mahmudah yang terangkum dalam sifat TAQWA tetapi ia bukan TAQWA. Takut dalam bahasa Arab ialah khauf atau khasya.

TAQWA berasal dari perkataan waqa–yaqi–wiqoyah yang ertinya memelihara. Hujahnya ialah ayat الْقُرْآنَ seperti berikut:

Maksudnya: “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu memelihara diri kamu dan keluarga kamu dari api Neraka.” (At Tahrim: 6)
Kerap di dalam الْقُرْآنَ, ALLAH menyeru dengan kalimah ittaqu atau yattaqi. Di mana ada tambahan huruf pada asal kalimah waqa, ia membawa perubahan kepada makna. Di sini ittaqullah membawa maksud hendaklah kamu mengambil الله sebagai pemelihara/ pembenteng/ pelindung. Iaitu hen­daklah jadikan الله itu pelindung. Jadikan الله itu kubu atau benteng. Bila sudah berada dalam perlindungan, kubu atau benteng الله, perkara yang negatif dan berbahaya tidak akan masuk atau tembus. Atau jadikan الله itu dinding dari kejahatan. [1]

Usaha untuk menjadikan الله sebagai pemelihara atau pelindung atau pembenteng ialah dengan melaksanakan perkara-perkara yang disuruh oleh الله lahir dan batin. Dengan kata-kata yang lain, perkara yang disuruh itu ialah membina sifat-sifat mahmudah. Mengumpul dan menyuburkan sifat-sifat mahmudah (terpuji) itulah usaha bagi menjadikan الله itu sebagai pemelihara atau pelindung. Membina sifat-sifat mahmudah itulah usaha ke arah TAQWA.

TAQWA atau wiqoyah telah disalahertikan. Maksudnya telah disempitkan. Ia sebenarnya adalah lebih global dan luas. Ia adalah gudang mahmudah dan merupakan himpunan segala sifat-sifat mahmudah. Di situ ada sabar, redha, pemurah, berkasih sayang, pemaaf, memberi maaf, meminta maaf dan sebagainya. Seluruh sifat mahmudah itulahTAQWA. Jadi, besarlah erti TAQWA. Ia membawa keselamatan dunia dan Akhirat.

Oleh itu, kalau dikatakan ittaqullah, maknanya yang sebenar ialah:

‘Hendaklah kamu mengambil الله sebagai pemelihara!'

Untuk menjadi orang yang BERTAQWA ertinya:
  • Orang yang berada dalam perlindungan الله atau dalam pemeliharaan الله;
  • Orang yang berada dalam benteng dan kubu الله. Dia selamat dari serangan luar. Serangan luar tidak lut (Eng: penetrate) dan tidak mengenai dirinya.
  • Orang BERTAQWA itu seolah-olah telah dipakaikan baju besi atau jaket kalis peluru.
TAQWA adalah pakaian jasad, batin atau ruhaniyah (roh). Ia adalah amalan jiwa atau roh.

TAQWA adalah perkara dalaman dan banyak melibatkan amalan HATI. Kalau sungguh-sungguh diamalkan dan dihayati, akan lahir sifat-sifat mahmudah seperti jujur, adil, benar, berkasih sayang, lemah lembut, pemurah, tawadhuk, pemalu, bertimbang rasa, berperikemanusiaan, sabar, redha, tawakal, bertolak ansur, mengutamakan orang lain, pemaaf, amanah, tekun, rajin, lapang dada, bekerjasama, simpati, belas kasihan dan sebagainya.

Rasulullah SAW bersabda:
“TAQWA itu terletak di sini”, sambil beliau صلیﷲ علیﻪ و سلم menunjuk ke dada/HATI beliau tiga kali.” [Hadith Riwayat Muslim]
Orang yang BERTAQWA adalah orang yang luar biasa. Sebab dia manusia yang mempunyai bersifat malaikat. Sifat-sifat malaikat persis ada dalam dirinya. Orang BERTAQWA sahaja yang akan selamat di dunia dan di Akhirat.

Asas TAQWA

Asas TAQWA yang lahir bermula dari aqidah yang betul diikuti dengan solat, puasa, zakat dan naik haji. Itu adalah asas TAQWA. Kalau asas TAQWA ini tidak wujud, artinya kita tidak mempunyai benih untuk ditanam. Kalau tidak ada benih, masakan akan ada pokoknya. Amalan-amalan yang lain adalah sebagai tambahan.

Asas TAQWA yang ruhaniya ialah rasa kehambaan yang sungguh mendalam. Di antaranya rasa serba-serbi dhaif, lemah, hina di sisi Allah SWT. Rasa diri benar-benar dimiliki oleh الله. Rasa diri tidak punya apa-apa.

Diri yang rasa lemah itu sangat merasakan ianya terdedah kepada berbagai kerosakan dan cacat cela. Tiada daya, tiada upaya dan tidak mampu berbuat apa-apa. Rasa kehambaan yang mendalam ini menjadikan hati penuh pasrah, merintih, mengharap dan memohon setiap sesuatu itu hanya dari الله.

Amalan TAQWA

Amalan TAQWA pula bukan sekadar apa yang terkandung di dalam rukun Islam seperti puasa, zakat, haji dan solat sahaja. Bukan setakat membaca الْقُرْآنَ atau berwirid dan berzikir sambil mengira tasbih. Bukan juga beruzlah (menyendiri ditempat sunyi), menjauhkan diri dari orang ramai. Amalan TAQWA bukan sahaja di surau atau di masjid.

Amalan TAQWA adalah apa sahaja amalan dan perbuatan di dalam kehidupan yang berlandaskan syariat sama ada yang fardhu, wajib, sunat atau harus atau apa sahaja amalan dan perbuatan yang dijauhi dan ditinggalkan sama ada yang haram atau makruh yang dibuat berserta ROHNYA iaitu ada batinnya (bersifat ruhaniyah), penghayatan dan penjiwaannya. Dengan kata-kata yang lain, ada terkait dengan akal, ROH dan terhubung dengan الله, dibuat kerana الله dan mengikut cara yang الله kehendaki.

Apa saja yang dilakukuan atau ditinggalkan itu berkait dan kerana الله maka itulah TAQWA. Amalan yang tidak berkait dan tidak dibuat kerana الله, itu adalah amalan kosong, yang tidak ada nyawa, jiwa atau ROHNYA. Ia tidak sampai kepada الله dan tidak ada apa-apa nilai di sisi-Nya.

Firman ALLAH dalam Surah al-Hajj, ayat 37:

"Daging dan darah binatang korban atau hadiah itu tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepadaNya ialah amal yang ikhlas yang berdasarkan taqwa dari kamu."
Di dalam Islam, di samping ibadah lahiriah, terdapat banyak ibadah batiniah atau ibadah yang bersifat ruhaniyah. Ibadah lahir banyak syarat rukun dan sah batalnya.

Tetapi ibadah batiniah (ruhaniyah atau dalaman) tidak mengira tempat, waktu, masa, suci atau berhadas, haul atau nisabnya. Ia boleh dilakukan bila-bila masa.

Ini termasuklah bertafakkur, muhasabah diri, musyahadah, mujahadah, bertaubat, merintih dengan الله, sabar dalam menanggung sakit, ujian, musibah, cacian, kehinaan dan makian orang, menyuburkan rasa-rasa bertuhan dan rasa-rasa kehambaan dan berzikir di hati. Ini se­mua adalah amalan rohani yang boleh menghasilkan TAQWA.

Arahan Supaya BerTAQWA

Allah SWT berfirman:

“Hendaklah kamu bertaqwa kepada الله sejauh yang termungkin (menurut kesanggupanmu, sedaya upaya).” (At Taghabun: 16)
Sejauh yang termungkin di sini bermaksud turun-naik nafas mesti dijadikan TAQWA. Mendengar, melihat, makan minum, berjalan, berhibur, semuanya mesti dijadikan amalan TAQWA. Jangan ada satu hembusan nafas yang tidak jadi TAQWA. Jangan ada seulas nasi yang tidak jadi TAQWA. Jangan ada satu pendengaran atau satu penglihatan yang tidak jadi TAQWA. Malahan jangan ada satu apa pun dalam hidup ini yang tidak membawa kepada TAQWA. Itulah maksud sejauh yang termungkin dalam mengusahakan TAQWA.

Beramal Untuk Menambah TAQWA

Firman Allah SWT (artinya):

“ Dan hendaklah kamu menambah bekalan. Maka sesungguhnya sebaik-baik bekalan itu adalah (sifat) TAQWA. Dan bertaqwalah pada Aku, wahai orang-orang yang berakal (al-bab)” (Al Baqarah: 197)
Di dalam ayat di atas ini الله menyuruh kita supaya sentiasa menambah sifat TAQWA. Kerana sifat TAQWA ini adalah bekalan kita di Akhirat. Ia juga untuk mendapat bantuan الله di dunia dalam berbagai bentuk. Itulah yang merupakan khawariqul ‘adah. Kalau bagi Rasulullah SAW dikatakan mukjizat. Kalau bukan di zaman Rasulullah dikatakan keramat atau berkat atau rahmat dari الله.

Seperti yang pernah berlaku dan dipaparkan dalam sejarah, dalam peperangan, umat Islam yang sedikit boleh mengalahkan musuh yang ramai, atau mendapat rezeki dari sumber yang tidak diduga dan lain-lain lagi contoh yang banyak berlaku di kalangan para Sahabat. Itu dikurniakan الله di dunia, tetapi yang paling utama ialah di kurniaan الله di Akhirat.

الله sebut dalam firman-Nya di atas, hendaklah kita senatiasa menambah bekalan iaitu sifat TAQWA. Kita disuruh membangunkan asset (harta) di Akhirat sambil mendapat pertolongan dan bantuan الله di dunia. Menambah sifat TAQWA ini mestilah di atas landasan syariat. Yang asas-asasnya ialah solat, puasa, zakat dan haji. Itu asas atau tapak untuk menambah TAQWA.

Sifat TAQWA banyak di tengah-tengah kehidupan. Bukan di masjid atau di surau sahaja. Membantu orang, bersatu padu, berkasih sayang, menyelesaikan masalah orang dan berkerjasama, itu semua adalah amalan TAQWA.

Di atas penglihatan, pendengaran, gerakan tangan, gerakan kaki ke tempat-tempat yang kita pergi. Malahan ia berlaku dalam apa sahaja aktiviti hidup kita. Di situlah kita akan dapat TAQWA.

TAQWA Itu Perkara Dalaman

Syariat itu adalah rangka. Kalau rangka sahaja yang ada, tidak bernyawa, tidak ada roh, maka tidak ada erti apa-apa.

Kita contohkan dalam ibadah asas, seperti solat. Rukuk, sujud dan bacaan-bacaan itu rangka. Kalau hanya badan sahaja yang rukuk, tetapi hati tidak rukuk ertinya kita hanya bawa rangka.

Kita hanya bawa rangka yang dalamnya KOSONG. Kalau badan sahaja yang sujud, hati tidak sujud, ertinya rangka sahaja yang sujud. Sebab itu kadang-kadang dalam meniti di atas Syariat pun, dalam melaksanakan ibadah fardhu pun, kita tidak dapat menambah TAQWA. Padahal itu ibadah asas. Kalau kita membawa atau laksanakan itu rangka sahaja tetapi tidak besertakan roh (ruhaniyah) maka ibadah seperti itu tidak akan menambahkan TAQWA.

Kebanyakan perkara2 yang melibatkan pencapainTAQWA adalah perkara ruhaniyah, paling tidak ia bersifat maknawiyah. Kalau tidak ada ruhaniyah, walaupun ibadah itu tampak sempurna, walaupun ia menjadi bualan orang-orang setempat, namun ia adalah kosong. Solat kosong, haji kosong, pekerjaan (occupation), pendidikan kosong. Ianya tidak bernyawa dan tidak bernilai di sisi الله. Padahal itu perkara-perkara yang melibatkan syariat, namun kalau tidak ada rohnya, ia tidak boleh menambah TAQWA.

Mengusahakan TAQWA

Mengamalkan Islam yang lahir itu, seperti solat fardhu dan sunat, puasa, zakat, baca dan tadabbur الْقُرْآنَ, wirid dan zikir, tujuannya supaya kita menjadi orang BERTAQWA. Namun kalau kita boleh beribadah seperti itu dua puluh empat jam sehari pun, yang kita akan dapat dari usaha itu hanya 10% sahaja dari nilai TAQWA keseluruhannya.

Tetapi untuk mencapai tingkatan 10% itu pun bukan mudah. Bukan mudah untuk bangun solat malam, berpuasa, berzakat dan bersedekah, tadabbur الْقُرْآنَ dan wirid zikir. Untuk mendapat TAQWA cara lahiriyah itu pun amat susah.

Untuk mencapai TAQWA sepertimana yang dikehendaki 90% dari usahanya berada dalam bentuk yang tersirat yang bersifat maknawiyah dan ruhaniyah. Pencapaiannya adalah lebih susah untuk diperolehi. Bukan mudah hendak takut dengan اللهkerana ia menyentuh soal ruhaniyah. Ia bersifat rasa (feel). Bukan mudah hendak cinta الله. Ia juga soal ruhaniyah. Lebih mudah untuk kita cinta anak isteri dari cinta الله. Bukan mudah untuk rasa bertuhan. Bukan mudah untuk bawa rasa bertuhan ke mana-mana. Bukan mudah hendak bawa rasa bertuhan kalau tidak dididik dari kecil lagi. Kecualilah bagi orang yang الله hendak anugerahkan rasa bertuhan itu. Tetapi berapa ramai orang yang begitu?

Bukan mudah hendak terasa hebatnya الله dan rasa diri kita kerdil dan dha’if . Ketika solat, bagaimana hendak lahirkan rasa “tersentuh” dengan apa yang dibacakan sehingga bergelombang dan gementar hati kita - tidaklah mudah. Bila disebut Allahu Akbar, ada sejenis rasa, bila disebut Alhamdulillah, ada satu rasa lagi yang lain. Berbagai ayat yang kita baca, berubah-ubah rasa kita. Ini bukan mudah. Soal lafaz lain. Soal rasa pula lain. Sedangkan 10% TAQWA itu dari ibadah lahir manakala 90% adalah dari ibadah batiniah atau ruhaniyah yang seperti ini yang ada lahir daripada HATI.

Tidak menjadi kesalahan atau dosa menjjadi orang kaya tetapi bukan mudah untuk tidak cinta harta dan kekayaan kita itu. Padahal الله benarkan kita jadi kaya, hanya الله tidak benarkan kita mencintai kekayaan kita itu.

Sepatutnya bila dapat jawatan (pangkat atau kedudukan), kita rasa malu dan menangis kerana rasa tidak layak dan takut kita akan lupa diri dan tidak pandai bersyukur. Kerana kita tahu bahawa hakikatnya, jawatan itu dari الله. Tetapi sebaliknya kita rasa bangga dan rasa jadi tuan.

Dalam mengusahakan TAQWA ini, yang perkara-perkara luaran yang yang berasaskan syariah, hukum-hukum fiqah, perbuatan kena dilaksanakan menurut yang telah disyariatkan, tetapi prioritinya ialah perkara-perkara dalaman yang melibatkan HATI, deria-rasa. Jadi mengamalkan amalan Islam dengan tujuan hendak menjadi orang BERTAQWA, yang lahir 10% sahaja, yang dalam (ruhaniyah) adalah 90%. Yang luar walaupun hebat, kalau yang dalam kosong, kita akan masuk Neraka sekiranya الله tidak ampunkan kita.

Rasulullah SAW mengambil masa tiga belas tahun di Mekah untuk menanam iman dan TAQWA di hati para Sahabat. Selama sepuluh tahun kemudian, barulah Baginda melaksanakan perintah dan syariat ALLAH – membangun negara kecil yakni di Madinah. Dibangunkan madrasah yang menjadi kilang untuk mengeluarkan para ilmuan yang BERTAQWA sebagai penyambung dan pelapis perjuangan. Dibangunkan ekonomi dengan membuka pasar Ansar yang diuruskan oleh Sayidina Abdul Rahman bin Auf. Begitulah perjuangan itu berkembang dan terus membesar hingga akhirnya tiga perempat dunia menyerah diri kepada Islam. Semua itu bertolak dari TAQWA.

Itulah cara perjuangan Islam yang dibuat oleh Rasulullah SAW. Dan itulah satu-satunya cara yang benar dan tepat.

Roh Amal

Islam itu ada lahir, ada batin. Ada jasad, ada roh. Ada rangka, ada nyawa. Islam itu ada kulit dan ada isi. Batin Islam atau roh Islam atau nyawa Islam atau intipati Islam itulah yang dikatakan rohul amal.

Rohul amal inilah yang hendak kita jaga sungguh-sungguh kerana ia merupakan nyawa bagi amalan kita di samping kita tidak pula menafikan amalan atau syariat lahir. Roh amal inilah tempat jatuh pandangan الله kerana ia merupakan intipati amal. Itulah perkara yang الله nilai. الله tidak pandang amalan lahir kita kalau rohnya tidak ada. Justeru itu, kita beribadah mesti ada roh. Berdakwah dan berjihad, mesti ada roh. Begitu juga bermusafir, bergaul, berdoa, berzikir, berekonomi, bertani dan sebagainya mesti ada roh.

Amalan yang tidak ada roh samalah seperti manusia yang tidak ada nyawa. Ertinya sudah dianggap kosong.

Menghadirkan Roh Dalam Amalan

Hendak wujudkan, hendak lahirkan dan hendak hadirkan roh dalam aktiviti kita, usaha kita, tindak-tanduk kita dan dalam aspek apa sahaja, itu yang susah. Kadang-kadang kita ingat, tetapi diganggu.

Sebab itu selepas solat, selepas buat baik, kita disuruh istighfar? Mengapa? Kalau selepas buat jahat kita disuruh istighfar – itu lebih logiklah. Kenapa pula kita disuruh istighfar selepas membuat kerja atau amal baik? Sebab kita takut, takut kita tidak dapat TAQWA dalam solat atau dalam amalan baik yang kita lakukan itu. Takut-takut dalam amalan kita itu tidak ada rohnya dan الله tidak pandang.

Mengapa pula selepas berdakwah, selepas mengajar, selepas berniaga, kita tidak istighfar? Mengapa selepas berniaga kita tidak menung sekejap. Patutnya balik sahaja dari berniaga kena merenungkan apa yang telah kita buat dan bertaubat. Sebab mungkin berniaga kita tidak ada roh. Hanya dapat KOSONG sahaja. Patutnya di situlah kita minta ampun sebab mungkin ada orang yang telah kita zalimi, yang telah kita sakiti, yang tidak senang dan yang sakit hati dengan kita semasa kita berniaga dan berurusan dengan pelanggan. Mengapa balik berniaga tidak minta ampun kepada الله?

Kalau kita boleh buat seperti ini, الله akan selamatkan kita. Sifat TAQWA akan bertambah. Untung di dunia lagi الله akan berikan. Memang sifat TAQWA itu untuk Akhirat, tetapi TAQWA juga memberi kita untung dunia untuk keperluan di dunia.

Wallahua'lam.

Sumber Rujukan :
http://www.usahataqwa.com/TAQWA/apakah-sebenarnya-TAQWA.html
http://www.lightofislam.info/phpBB3/viewtopic.php?f=12&t=601

21 Mac 2011

Sertai Forum Bicara Muslim (FBM)

Assalamualaikum

Pembaca yang dihormati dan dikasihi sekalian,

Untuk makluman anda semua, kini admin telah mewujudkan satu ruangan forum untuk semua khususnya pengguna yang memiliki akaun Facebook. Forum tersebut telah dinamakan sebagai Forum Bicara Muslim (FBM). Tujuan utama FBM diwujudkan adalah sebagai suatu medium perkongsian maklumat dan perbincangan ilmiah sesama ahli secara lebih tersusun mengikut kategori yang telah disediakan.

Kelebihan FBM
  • Mudah! Hanya login menggunakan akaun Facebook anda sahaja tanpa perlu melalui proses pendaftaran yang merumitkan.

  • Boleh diakses melalui Facebook (penerangan bergambar di bawah).

  • Boleh menyertakan video youtube dan gambar di dalam posting.

  • Mempunyai kemudahan fungsi carian.

  • Fungsi dan paparan yang 'user friendly'.
Bagaimana Akses FBM Melalui Facebook
Berikut dinyatakan secara bergambar bagaimana untuk mengakses FBM melalui Facebook.


Setelah klik link forum seperti di atas, anda akan terus memasuki ruangan FBM seperti berikut :


Sertai FBM Sekarang!
Untuk menyertai FBM sila klik di sini.

Group FBM di Facebook
Untuk makluman anda, admin juga telah mewujudkan group facebook yang juga menggunakan nama FBM sebagai wadah menghubungkan pengguna facebook kepada forum sebenar yang telah dinyatakan di atas. Untuk menyertainya sila klik di sini.



Perhatian! : Setelah menyertai FBM anda diingatkan supaya memahami dan mematuhi syarat & peraturan yang telah ditetapkan di sana.

Sekian, semoga kewujudan FBM ini memberi manfaat untuk kita semua insyaAllah. Selamat berforum ! :)


16 Mac 2011

Tanda Hati Mati


Menurut Syeikh Ibrahim Adham, antara sebab atau tanda-tanda hati mati ialah:

1. Mengaku kenal Allah SWT, tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya.

2. Mengaku cinta kepada Rasulullah s.a.w., tetapi mengabaikan sunnah baginda.

3. Membaca al-Quran, tetapi tidak beramal dengan hukum-hukum di dalamnya.

4. Memakan nikmat-nikmat Allah SWT, tetapi tidak mensyukuri atas pemberian-Nya.

5. Mengaku syaitan itu musuh, tetapi tidak berjuang menentangnya.

6. Mengaku adanya nikmat syurga, tetapi tidak beramal untuk mendapatkannya.

7. Mengaku adanya seksa neraka, tetapi tidak berusaha untuk menjauhinya.

8. Mengaku kematian pasti tiba bagi setiap jiwa, tetapi masih tidak bersedia untuknya.

9. Menyibukkan diri membuka keaiban orang lain, tetapi lupa akan keaiban diri sendiri.

10. Menghantar dan menguburkan jenazah/mayat saudara se-Islam, tetapi tidak mengambil pengajaran daripadanya.

Sheikh Ibni Athoillah Iskandari dalam kalam hikmahnya:
Sebahagian daripada tanda mati hati itu ialah jika tidak merasa dukacita kerana tertinggal sesuatu amal perbuatan kebajikan juga tidak menyesal jika terjadi berbuat sesuatu pelanggaran dosa.



08 Mac 2011

Kaedah Untuk Menarik Perhatian Sasaran Dakwah

Dalam Islam Awal
Dalam al-Quran, istilah dakwah mempunyai segi-segi lain. Dalam Surah 30 dalam al-Quran, ia bererti untuk memanggil yang meninggal untuk membangun dari makam pada Hari Pengadilan. Apabila digunakan dalam al-Quran ia pada umumnya dirujukkan pada jemputan Tuhan untuk hidup menurut keazamanNya. Oleh itu, apabila digunakan dalam abad-abad pertama Islam, ia menambahkan kandungan pesan dan kadang-kadang digunakan secara ditukarganti dengan sharī‘a dan dīn.

Dakwah juga dijelaskan sebagai tugas untuk "secara aktif menggalakkan umat Islam dalam penerusan kewarakan lebih kuat dalam semua aspek hidup mereka," suatu takrifan yang telah dijadikan pusat pada fikiran Islam sezaman.[1]

Tujuan Dakwah

Dalam teologri Islam, tujuan Dakwah adalah untuk menjemput orang, yang Islam dan bukan Islam, untuk memahami penyembahan Tuhan seperti disebutkan dalam al-Quran, dan juga untuk memberitahu mereka berkaitan Muhammad.[2] Seperti diarahkan ke yang bukan Islam, ia terdiri dari menjelaskan Islam melalui tindakan, perbincangan dan dialog.

Uslub Dakwah

Uslub dakwah bermaksud ilmu tentang cara berdakwah dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dakwah dalam menarik golongan yang diseru kepada ajaran Islam

Sasaran Dakwah

Kaedah Untuk Menarik Perhatian Sasaran Dakwah

1. Mempermudahkan dan kelonggaran yang diberikan

Masyarakat non Muslim diberi pilihan dengan tidak ada paksaan untuk menerima Islam. Mereka boleh menilai dengan melihat kepada keperluan fitrah semulajadi yang ada dalam diri mereka. Islam sentiasa membenarkan pendakwah mempermudahkan dan menarik alternatif bagi memberi kelonggaran dalam beberapa hal kepada non Muslim dan saudara baru memeluk Islam.

2. Dakwah bil hal

Setiap perilaku dan amalan harian para pendakwah dan umat Islam hendaklah mencerminkan kesucian Islam yang menjamin kesejahteraan dan ketenteraman sejagat. Setiap tindakan akan dilihat oleh masyarakat non Muslim untuk dinilai sebelum menerima Islam. Tingkah laku mestilah berasaskan nilai tauhid, mengikut syariat Islam serta berbentuk ajakan kepada kesempurnaan Islam.

3. Dakwah melalui pendidikan

Pendidikan Islam sendiri merupakan proses mendidik akal, jasmani, dan rohani manusia berasaskan nilai-nilai fitrah insaniah. Proses pendidkan Islam ini akan membina akhlak dan membawa kepada kehidupan yang sempurna. Dakwah secara ini perlu merujuk kepada cara dakwah Rasulullah S.A.W semasa di peringkat awal Islam yang lebih memberi penekanan kepada psikologi, rohani dan perasaan.

4. Dakwah melalui pergaulan

Islam telah menggesa kepada umat Islam umumnya dan para pendakwah khususnya supaya mewujudkan suasana pergaulan yang baik dan menunjukkan jalan yang lurus kepada masyarakat yang belum Islam atau non Muslim. Para pendakwah harus mengenali latar belakang masyarakat yang hendak diseru itu terlebih dahulu supaya dapat melicinkan pergaulan dan proses bermuamalah dengan mereka.

5. Dakwah melalui ziarah

Ziarah merupakan satu usaha mendampingkan diri dengan non Muslim yang digalakkan oleh Islam terutama di waktu-waktu yang diperlukan seperti apabila mereka sakit, bermasalah, mahukan pertolongan dan seumpamanya. Ziarah boleh melapangkan dada mereka dan memberi ketenangan.

Sumber Artikel : Wikipedia




07 Mac 2011

Berita Baik!! Peluang Menulis/Berkongsi Artikel di Blog

Assalamualaikum.

Semoga anda dalam keadaan sihat sejahtera. Untuk makluman, pihak pengurusan blog Masjid Al-Ehsaniah ingin memberi peluang kepada semua yang berminat untuk menulis / berkongsi artikel untuk dipaparkan di laman blog Masjid Al-Ehsaniah. Berikut adalah cara-cara bagaimana untuk berbuat demikian.


Cara-cara:

1- Pergi ke ruangan forum. Klik di sini

2- Hanya menggunakan akaun Facebook anda untuk login ke ruangan forum

3- Klik sub-kategori : Komen / Cadangan / Aduan

4- Kongsikan artikel anda di bawah topik "Cadangan Artikel Untuk Dipaparkan di Blog Masjid Al-Ehsaniah"


Semoga perkongsian artikel anda nanti mendapat manfaat untuk diri sendiri dan orang lain sekaligus mengundang ganjaran di sisi Allah SWT insyaAllah..

Selamat berkongsi artikel! :)

Terima kasih.

Muhasabah Diri Melalui Azan




Azan dalam Islam bermaksud memaklumkan. Ia sinonim dengan bilal atau muazzin yang bertujuan untuk mengajak sekalian umat Islam mengerjakan Rukun Islam kedua.

Ia juga sebagai tanda masuknya waktu solat dan beralihnya peredaran masa daripada subuh, tengahari, petang, malam hinggalah ke awal pagi keesokan harinya.

Namun, cuba kita tanyakan diri, apakah yang kita lakukan sebaik sahaja terdengarnya azan?

Adakah kita mendiamkan diri sambil menghayati setiap kalimah azan yang dilaungkan oleh bilal dan menjawabnya satu persatu?

Atau terus bangun untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu' serta bersedia untuk mengerjakan solat?

Mungkinkah hanya membiarkan seruan azan itu berlalu begitu sahaja tanpa menghiraukannya?

Bagaimana pula dengan azan melalui corong radio mahupun televisyen, berapa ramai yang terus menghayati dan berapa kerat pula yang terus menukar siaran sebaik sahaja azan ke udara?

Mari kita berkongsi sedikit waktu untuk menyelidiki apa yang tersirat di sebalik makna panggilan azan itu melalui makna dalam bahasa.
ALLAH Maha Besar, ALLAH Maha Besar
ALLAH Maha Besar, ALLAH Maha Besar
Sebutan empat kali "ALLAH Maha Besar, ALLAH Maha Besar" ini menunjukkan betapa Agungnya ALLAH SWT, lantas menyedarkan kita betapa kebesaranNya mengatasi segala apa yang ada di langit dan di bumi.

Waktu ini seharusnya fikiran kita difokuskan pada fitrah kejadian seorang manusia sebagai khalifah. Tinggalkan segala hal duniawi dan terus menunaikan kewajipan untuk sujud kepadaNya tanpa sebarang alasan.
Aku naik saksi tiada Tuhan selain ALLAH
Aku naik saksi tiada Tuhan selain ALLAH
Sebutan sebanyak dua kali "Aku naik saksi tiada Tuhan selain ALLAH" yang memberi kesaksian tentang sifat keEsaan Allah. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain ALLAH.

Lantas menyedarkan kita tentang syahadah kita. Sesungguhnya dengan solatlah syahadah kita terjaga. Dari solat yang khusyuklah syahadah memelihara kita. Lalu apakah alasan kita untuk mengelak dari melakukan hal yang paling utama dari segala perkara yang utama di dunia ini?
Aku naik saksi Nabi Muhammad itu pesuruh ALLAH
Aku naik saksi Nabi Muhammad itu pesuruh ALLAH
Sebutan sebanyak dua kali "Aku naik saksi Nabi Muhammad itu pesuruh ALLAH" ini memberi kesaksian tentang kerasulan Rasulullah saw. Mengingatkan kita betapa Nabi Muhammad saw. itu sebenar-benarnya utusan dan kekasih ALLAH SWT.

Selepas solat sebaiknya berselawatlah kepada Rasul Junjungan kita dan para keluarga mahupun sahabat Baginda saw..

Pengorbanan dan akhlak Nabi saw. menjadi contoh bagi sekalian umat. Betapa sayangnya Nabi pada umat Baginda sehingga nafas terakhirnya diakhiri dengan kalimah "ummati..ummati..".

Syafaatnya antara rahmat yang diberi pada umatnya. Lantas ringankanlah diri berselawat kepadanya. Cinta kita pada Baginda saw. masih tidak setanding cinta Baginda saw. pada kita.
Aku naik saksi Nabi Muhammad itu pesuruh ALLAH
Marilah mendirikan solat
Sebutan dua kali "Aku naik saksi Nabi Muhammad itu pesuruh ALLAH dan Marilah mendirikan solat" adalah mengajak untuk menunaikan solat.

Sebaiknya solat itu adalah solat berjemaah. Solat adalah penghubung seorang hamba dengan Tuhannya.

Sudah ditetapkan ada lima waktu solat fardhu perlu ditunaikan. Seandainya kita mengelak dengan pelbagai alasan sekalipun ia tetap dikira sebagai 'hutang' di sisi ALLAH.

Kita sebagai hamba perlu melunaskan kewajipan sebelum ALLAH swt. melunaskan untuk kita (Azab Neraka).

Bilakah agaknya kita betul-betul bersedia untuk menunaikan solat dengan sempurna?

Adakah kita mempunyai waktu yang cukup untuk menggantikan segala solat yang telah tertinggal?

Sesungguhnya hari ini tidak akan sama dengan semalam dan jauh berbeza dengan esok. Tidak sama pagi yang ada matahari dan malam yang bertemankan bulan.

Lalu solatlah diawal waktu dan gantikanlah solat yang telah tertinggal.
Marilah menuju kejayaan
Marilah menuju kejayaan
Sebutan dua kali "Marilah menuju kejayaan" yang sama banyak dengan panggilan solat.

Sesungguhnya orang yang menang dan berjaya di sisi ALLAH ialah orang yang tetap mengerjakan solat dengan hati yang khusyuk.

Ini juga menunjukkan Islam menggalakkan umatnya untuk mencapai kejayaan yang pasti bukan sahaja di dunia tetapi juga di akhirat sana.

Kejayaan yang sebenar-benarnya bukan sahaja dari berapa banyak harta kita, tetapi betapa kita menjagaNya di hati kita dengan menunaikan segala suruhanNya dan meninggalkan segala laranganNya.

Sebaik-baiknya tinggalkan dahulu kerja mencari harta untuk dunia untuk mengerjakan solat sebagai bekalan di akhirat sana sejurus sahaja seruan azan dilaungkan.
ALLAH Maha Besar, ALLAH Maha Besar
Tiada Tuhan selain ALLAH
Kita diingatkan kita sekali lagi betapa besar dan agungnya ALLAH SWT. Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan ALLAH. Manusia itu mudah lupa dan lemah, tetapi ALLAH itulah sumber kekuatan kita.

Solat yang sempurna dapat mencegah diri dari melakukan perbuatan cela.

Kalaulah diri mudah mengikut ajakan teman-teman walaupun pujukan tanpa sebarang alat pembesar. Kenapa azan yang dilaungkan dengan lantang langsung tidak terendah oleh akal dan fikiran apalagi jasad?

Walhal, Syaitan sekalipun akan berlari bertempiaran tatkala terdengar laungan azan menunjukkan betapa azan ini mampu memberi rasa GENTAR pada syaitan.

Adakah kita ingin menjadi lebih teruk daripada makhluk tersebut, tiadakah rasa gentar dan takut dalam hati kita tatkala nama ALLAH dilaungkan?

Ingatlah, selagi kita terdengar kalimah ALLAH dari azan yang dilaungkan, persiapkan diri untuk solat.

Kerana kita tidak tahu sampai bilakah lagi laungan ini akan kedengaran di cuping telinga.

Andai panggilan menghadapNya sudah tiba, sudah tentu kita tidak mampu menangguhkannya apalagi mengelak.



Menegur Orang Secara Berhikmah

Perbezaan pendapat dan pandangan yang berlainan adalah sesuatu perkara yang lumrah. Apabila ia berlaku jangan sesekali ada di antara kita dengan mudah membuat kesimpulan yang menjurus kepada prasangka kononnya ia bertujuan memburukkan sesiapa. Allah s.w.t. telah mengingatkan kita dalam surah Yunus ayat 36 dengan menegaskan yang bermaksud:
‘‘Prasangka itu tidak mendatangkan kebenaran apa pun.”
Oleh itu jika tercetus sesuatu isu antara kita dan terwujudnya perbezaan pendapat atau terbentuk sesuatu teguran, ia seharusnya ditangani dengan sebijak-bijaknya. Janganlah pula kita terlalu gopoh ke hadapan dengan membuat andaian yang bukan-bukan atau berhujah dengan penuh emosi sehingga terwujud cabar-mencabar. Sebaliknya teguran atau sesuatu pandangan itu perlu diteliti dan dihalusi sertai dikaji kebenarannya.

Islam telah menggariskan dalam membuat teguran, kita haruslah berhati-hati apatah lagi jika kita cuba bertindak sebagai ‘orang perantaraan’ bagi menjelaskan sesuatu perkara.

3 faktor yang digariskan oleh Islam boleh menjayakan sesuatu teguran itu ialah:

1. Tidak merendahkan ego orang yang ditegur

2. Mencari waktu yang tepat

3. Memahami kedudukan orang yang ditegur


Islam memberi panduan yang jelas dalam kita memberi teguran dan bagaimana sikap kita apabila ditegur. Kita tidak harus melatah apatah lagi terlalu emosional sehingga menyebabkan kita melafazkan kata-kata yang tidak sepatutnya. Semua itu tidak akan menyelesaikan masalah sebaliknya hanya akan mengeruhkan lagi keadaan, tidak kira samaada kita pemimpin atau tidak, tetapi apa yang kita perkatakan pasti akan dinilai oleh manusia. Kalau kita gagal mengawal perasaan kita berhujah, pasti akan menyebabkan berlaku tuduh-menuduh yang kesudahannya akan mencetus permusuhan antara kita.

Islam tidak hanya mengajar etika menegur umat seagama tetapi Islam juga mengajar kita bagaimana cara menegur yang betul kepada umat daripada agama lain. Ia terkandung dalam Al-Quran melalui perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berkata lembut kepada Firaun seperti mana firman-Nya dalam surah Taha ayat 44 yang bermaksud:
‘‘Berbicaralah kalian berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”
Oleh itu kita perlulah berhemah apabila menegur “kesilapan” orang lain. Jangan kita mudah ikut hati atau emosi kita tanpa menyiasat keadaan sebenar. “Kesilapan” orang lain mungkin bukan “kesilapan” bagi mereka, kerana mungkin mereka ada sebab-sebab yang kukuh yang mendorong mereka membuat sesuatu perkara. Jadi, eloklah kita siasat atau tanya dengan cara berhemah untuk mengetahui kedudukan sebenarnya.

Wallahua'lam.




06 Mac 2011

Jauhi Daripada Perbuatan Yang Mendatangkan Bala


Allah Maha Berkuasa ke atas tiap-tiap sesuatu, Dialah yang menjadikan segala-galanya. Nikmat dan azab juga diatas kehendaknya.

Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:
”Sesungguhnya apabila manusia melihat manusia lain melakukan kezaliman lalu tidak melarangnya, (maka dikhuatiri Allah akan menimpakan azab-Nya secara umum tanpa ada yang terselamat sama ada yang melakukan kezaliman atau yang melihatnya tanpa mencegahnya.” (Riwayat Abu Daud dan at-Tirmidzi)
“Apabila Allah menurunkan azab keatas dunia untuk satu-satu kaum, maka azab itu akan menimpa ke atas mereka yang berada sama dalam masyarakat kaum itu, kemudian apabila mereka dibangkitkan di akhirat nanti maka kedudukan mereka adalah mengikut taraf keimanan serta amal kebajikan yang mereka lakukan di dunia ini”. (Riwayat Al Bukhari).
Huraian
  1. Sesungguhnya bala Allah S.W.T akan menimpa hamba-hambanya yang bersekongkol dalam melakukan maksiat dan kemungkaran.

  2. Selaku umat Islam kita hendaklah sentiasa berwaspada daripada melibatkan diri dengan perbuatan-perbuatan yang salah sama ada di sisi agama mahupun undang-undang kerana semuanya ini akan memberikan imej yang tidak baik terhadap Islam di samping menunjukkan contoh yang buruk kepada yang bukan Islam.

  3. Adalah menjadi kewajipan untuk kita menegur sebarang perkara yang buruk sebelum ianya berlarutan menjadi satu budaya dalam masyarakat seperti maksiat, penindasan dan sebagainya kerana dibimbangi jika dibiarkan suatu masa kelak bala Allah akan menimpa yang akan mengenai seluruh makhluk di sekitarnya.

  4. Apabila Allah mahu menurunkan bala atau bencana ke atas satu-satu kaum di dunia ini kerana ada di kalangan kaum itu melakukan kejahatan atau maksiat, maka azab yang diturunkan itu menimpa ke atas semua tidak terkecuali kaum yang beriman.
Firman Allah SWT di dalam Surah Ar-Rum ayat 9 yang bermaksud:
" Tidakkah mereka telah berjalan dan mengembara di muka bumi, serta memerhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu dari mereka? Orang-orang itu lebih kuat daripada mereka sendiri, dan orang-orang itu telah meneroka bumi serta memakmurkannya lebih daripada kemakmuran yang dilakukan oleh mereka, dan orang-orang itu juga telah didatangi oleh Rasul-rasulnya dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas nyata (lalu mereka mendustakannya dan kesudahannya mereka dibinasakan). Dengan yang demikian, maka Allah tidak sekali-kali menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri."
Sejarah telah membuktikan bagaimana nasib bangsa-bangsa yang telah dimusnahkan angkara perbuatan mereka sendiri. Klik di sini untuk melihat post bangsa yang musnah.

Bagaimana dengan zaman sekarang, bukankah perbuatan yang mereka lakukan itu juga terjadi di zaman ini!! Homoseks, Lesbian, Gay dan seumpama dengannya..
Justeru, sebagai penduduk bumi ini, kita tidak sepatutnya merasa aman akan kezaliman/kemungkaran yang berlaku. Maka ayuh kita bersatu melaksanakan usaha amal makruf nahi mungkar. Semoga usaha ini akan menurunkan rahmat Allah bukannya bala Allah insyaAllah..

Kisah Rasulullah SAW Dengan Pengemis Buta

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta,hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad,dia itu orang gila,dia itu pembohong,dia itu tukang sihir,apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".

Setiap pagi Rasulullah S.A.W mendatanginya dengan membawa makanan,dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah S.A.W menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.

Rasulullah SAW melakukannya setiap hari hingga menjelang Baginda wafat.Setelah kewafatan Rasulullah S.A.W tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah Beliau bertanya kepada anaknya, "Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayahanda engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayahanda lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Itu?",tanya Abu Bakar r.a. Setiap pagi Rasulullah S.A.W selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah.

Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya.

Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya,si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu?". Abu Bakar r.a menjawab, "Aku orang yang biasa". "Bukan!,engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku.

Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada lagi. Ia adalah Muhammad Rasulullah S.A.W.

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia..

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.

04 Mac 2011

JADUAL KULIAH BULAN INI



Jadual sedang dibina

03 Mac 2011

Hak Seorang Muslim Terhadap Saudaranya

Rasulullah saw bersabda :
"Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam : jika bertemu maka berilah salam, jika tidak kelihatan maka bertanyalah, jika sakit maka jenguklah, jika mengundang maka penuhilah, jika bersin dan mengucapkan hamdalah maka jawablah (dengan mengucapkan 'yarhamukallah' , dan jika meninggal dunia maka hantarkanlah (ke kubur)." (HR Muslim)
PERTAMA : Jika bertemu maka berilah salam

Mengucapkan salam adalah langkah pertama dan ianya akan semakin mantap jika diikuti dengan berjabat tangan.

Ucapan salam mesti disertai dengan perasaan :
  • Cinta.
  • Senang hati.
  • Wajah yang berseri.
Ini adalah agar fungsi ucapan salam itu dapat diwujudkan. Selepas itu bolehlah saling memperkenalkan nama, pekerjaan dan tempat tinggal. Dengan yang demikian, kita telah memulakan tahap awal dalam berdakwah.

KEDUA : Jika tidak kelihatan maka bertanyalah

Watak sebuah perkenalan adalah jika seseorang yang sudah kita kenali itu tidak ternampak dalam waktu yang tertentu, maka kita mesti mencari khabar berita tentang keadaannya atau menghubunginya, samada melalui telefon, surat, e-mail ataupun SMS.

KETIGA : Jika sakit maka jenguklah

Sunnatullah akan berlaku pada setiap orang di mana pada suatu ketika ia akan merasa :
  • Gembira.
  • Sedih.
  • Sakit.
Maka setiap keadaan mesti dihadapi dengan sikap yang Islamik. Jika kita mendengar bahawa sahabat kita sakit, kita mesti cepat-cepat :
  • Menjenguknya.
  • Memberikan ketenangan kepadanya.
  • Mendoakan untuk kesembuhannya.
  • Membawa hadiah yang sesuai.
Rasulullah saw bersabda :
"Hendaklah kamu saling memberi hadiah, kerana hadiah itu akan menjadikan kamu saling mencintai." (HR Malik dalam "Al-Muwatha" ')
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda :
"Barangsiapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya sesama muslim kerana Allah, maka malaikat akan berseru kepadanya, 'Kamu dalam keadaan baik dan baik pula tempat tujuanmu, kamu pun akan ditempatkan di syurga.'" (HR Muslim)
Di tempat sahabat kita tersebut, kita pun dapat berkenalan dengan sahabat-sahabatnya yang lain dan dengan yang demikian kita akan semakin ramai mempunyai kenalan.

Jangan sampai kunjungan itu kita pergunakan untuk membaca Al Qur'an, majalah atau berbual yang tidak ada gunanya agar tujuan dan matlamat kunjungan tersebut dapat dipenuhi.

Jika kita masuk rumahnya, hendaklah kita duduk di mana kita dipersilakan duduk.

Diriwayatkan dalam sebuah atsar :
"Barangsiapa masuk rumah salah seorang di antara kamu maka duduklah di tempat tersebut, kerana kaum itu lebih mengetahui aurat rumah mereka." (HR Thabrani)
KEEMPAT : Jika ia mengundangmu maka penuhilah.

Setelah melewati tahapan-tahapan di atas maka hubungan antara kita dengan sahabat kita akan semakin erat. Suatu ketika, sahabat kita akan menghadapi keadaan-keadaan penting seperti kejayaan dalam tugas, perkahwinan atau yang lainnya, lalu ia mengundang kita untuk menghadiri acara-acara tersebut.

Kita mesti memenuhi undangan tersebut kerana ini merupakan kesempatan berharga yang tersedia tanpa perlu kita rancangkan terlebih dahulu. Begitu juga sebaliknya, kita pun mesti mengundangnya dalam acara-acara penting yang kita adakan.

KELIMA : Jika ia bersin dan mengucapkan "hamdalah" maka jawablah (ucapkan "yarhamukallah")

Duduk bersebelahan dengan orang yang belum dikenali di suatu tempat, samada di perjalanan, majlis keramaian ataupun tatkala menjenguk orang sakit, lalu orang yang duduk di sebelah kita itu bersin maka hendaklah kita menoleh kepadanya dengan wajah berseri seraya mengucapkan, "yarhamukallah” (mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada Anda)."

Tentunya perkara ini akan menjadikan dirinya merasakan sesuatu yang baru dan selepas itu kita dapat bercakap-cakap dengannya.

KEENAM : Jika ia meninggal dunia maka hantarkanlah ke tempat pemakamannya.

Apa yang dapat kita lakukan setelah seseorang itu meninggal dunia dan dikuburkan?

Pada hakikatnya, menghantar orang lain yang meninggal ke tempat pemakaman adalah menghantar dirinya sendiri, yang ia akan dapat mengambil nasihat, pelajaran, dan merenungkannya.

Ini sebuah sunnah Rasulullah saw yang menggambarkan persatuan dan kesatuan kaum muslimin.

Jika sebelumnya, kita dapat mengenal peribadi orang yang telah meninggal dunia, maka sekarang kita dapat menggunakan kesempatan untuk berkenalan dengan keluarganya dan orang-orang yang berta'ziah ke rumahnya.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda :
"Barangsiapa menghadiri jenazah hingga menyolatkannya, maka baginya pahala satu qirath. Barangsiapa menyaksikan hingga di makamkan, maka baginya dua qirath." Seorang sahabat bertanya, "Apakah dua qirath itu, wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Seperti dua gunung yang besar." (Muttafaqun 'Alaih)
LANGKAH-LANGKAH YANG MESTI DITEMPUH

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda :
"Setiap angota badan manusia diwajibkan mengeluarkan sedekah setiap hari di mana matahari terbit. "Para sahabat bertanya, "WahaiRasulullah, bagaimana kita dapat bersedekah?" Rasul menjawab, "Sesungguhnya pintu untuk berbuat baik itu sangat banyak. Bertasbih, bertakbir, dan bertahlil adalah sedekah; menyingkirkan duri dijalanan adalah sedekah; menolong orang tuli atau buta adalah sedekah; dan menunjukkan orang yang kebingungan, menolong dengan segera orang yang sangat memerlukan adalah sedekahmu terhadap dirimu."
PERTAMA : Bertasbih, Bertakbir Dan Bertahlil

Ucapan tersebut adalah ucapan yang diungkapkan dengan :
  • Lisan.
  • Rasa khusyu' dalam hati.
  • Munajat kepada Allah.
Ini adalah agar seorang muslim tetap berhubung dengan Allah Yang Maha Berkuasa.

Ia juga merupakan kekuatan yang dapat membantu untuk bersabar dan istiqamah.

Berzikir merupakan ibadah yang dapat dilakukan setiap ketika. la juga merupakan mesin yang tiada henti-hentinya bergerak membersihkan jiwa dari berbagai kotoran. Orang yang berzikir akan mendapatkan pahala yang amat besar.

KEDUA : Menyingkirkan Duri Di Jalanan.

Pernahkah kita melihat ibubapa kita dan datuk nenek kita rajin menyingkirkan :
  • Batu.
  • Duri.
  • Tulang.
dari tengah jalan agar tidak mengganggu orang yang melalui jalan itu? Ini menunjukkan hukum dan ajaran Islam tertegak dalam masyarakat kita.

Jika mereka menemui kertas bertuliskan ayat Al-Qur'an, hadits atau huruf Arab, maka mereka membakarnya atau menyimpannya. Di samping itu, mereka juga menyapu depan rumah dan kedai serta membakar sampah yang sudah menumpuk.

Itu semua mereka lakukan kerana didorong oleh satu faktor iaitu Aqidah Islamiah yang telah tertanam dalam hati mereka.

Tatkala kaum muslimin tidak mahu melaksanakan ajaran Islam, kita melihat tumpukan-tumpukan sampah berada di merata tempat, lalat bertebaran di mana-mana dan penyakit tersebar di setiap rumah.

Rasulullah saw telah mengajarkan kepada kita agar menyingkirkan duri dari tengah jalan dan menjadikannya sebagai sedekah yang berpahala besar. Oleh yang demikian, jika ada di antara kita yang melempar duri atau yang lainnya ke tengah jalan, maka baginya suatu dosa.

Rasulullah saw bersabda :
"Tatkala seseorang berjalan di suatu jalan dan menjumpai duri, lalu ia singkirkan duri tersebut, maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya."
Ini bukan hanya tanggungjawab setiap peribadi seorang muslim, tetapi juga merupakan tanggung jawab yang mesti dilaksanakan oleh pemerintah Islam untuk menjaga kesihatan masyarakatnya dan "'izzah" (kehormatan) umat Islam.
Umar bin Al Khatthab ra berkata :
"Seandainya seekor keledai ditemui (tersesat) di Iraq, maka sayalah yang bertanggung jawab, (kerana) kenapa saya tidak menunjukkan jalan pulang baginya."
Orang-orang yang biasa pergi ke negara-negara Barat akan kehairanan melihat jalan-jalan dan lorong yang bersih. Pemerintah negara-negara tersebut menyediakan berbagai kemudahan berupa tong-tong khusus untuk mengumpulkan sampah, suratkhabar dan majalah lama pada hari-hari tertentu termasuk perabot rumah tangga yang sudah tidak dipakai lagi. Bahan-bahan yang kaca pula diletakkan dalam satu tempat khusus. Oleh yang demikian, barang-barang lama ini dapat dikitar semula.

Selain itu, setiap orang diwajibkan membersihkan lingkungan rumah dan kedainya, membersihkan salji dan daun-daun yang berjatuhan. Jika ada seseorang yang terpeleset dan tidak terima lalu membawa permasalahannya ke mahkamah, maka tuan punya rumah boleh dikenakan denda, kadang-kadang boleh sampai seribu dolar.

Dengan cara ini, setiap bandar atau desa berusaha untuk membersihkan dan menjaga keindahannya agar menarik perhatian pelancong.

Jika umat Islam mahu melaksanakan seruan Rasulullah saw ini, iaitu mahu menyingkirkan duri dan yang semacamnya dari jalan, niscaya masyarakat Islam akan tampil dengan penampilan yang indah dan berseri dan dengan yang demikian, mereka telah menunjukkan jati diri ajaran Islam yang sebenarnya.

KETIGA : Menolong Orang Yang Tuli Atau Buta.

Ada seorang yang "ummi" (buta huruf) menerima surat dari anaknya, seorang tentera yang sudah lama ia tunggu khabar beritanya. Tentu sahaja ia akan sangat memerlukan orang yang boleh membacakan surat tersebut. Begitu juga dengan orang yang tuli.

Bagi golongan ini, walaupun manusia di sekitarnya aktif berkomunikasi, namun mereka tidak menampakkan tanda-tanda interaksi sama sekali kerana mereka tidak mengerti apa yang sedang berlaku. Golongan ini tidak merasakan keberadaan mereka dan tidak merasakan nikmatnya hidup kecuali jika ada orang-orang di sekelilingnya mahu mengambil peduli terhadap permasalahan yang sedang mereka hadapi.

Ada satu kisah di salah satu Pusat Islam di Eropah, di mana terlihat seorang pemuda warga Jerman ketika ceramah berlangsung, dia hanya diam sahaja dan jelas sekali seolah-olah ia tidak mengikuti ceramah yang sedang berlangsung kerana tidak memahami bahasa Arab. Lalu seorang di antara orang-orang Arab di situ menterjemahkan isi ceramah tersebut kepadanya dan dia mula menunjukkan minatnya dan merasa cukup gembira.

Apakah perasaan yang dirasakan oleh orang yang tuli dan buta tatkala mereka tidak dihiraukan oleh masyarakatnya?

Tentu sahaja mereka akan menderita dan mungkin akan membenci orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Menolong orang yang tuli dan buta menunjukkan sikap :
  • Saling mencintai.
  • Saling mengasihi.
  • Saling menolong.
  • Memperlihatkan karakteristik Islam.
Kita telah mengetahui kesusahan yang dialami oleh orang yang buta jika ia ingin pergi ke pasar, ia memerlukan seorang teman sebagai penunjuk jalan dan jika ia tidak mendapatkan teman lalu ia keluar ke jalan dengan menggunakan tongkat padahal ia tidak tahu arah ke pasar, pasti ia akan kebingungan.

Jika dalam keadaan semacam ini, kita tampil dan mendekati laki-laki itu kemudian membimbingnya dengan lembut dan sopan ke arah yang ia tuju, maka kita telah berbuat baik terhadap orang itu dan telah mengembalikan nama baik Islam.

KEEMPAT : Menunjukkan Orang Yang Kebingungan

Ramai orang yang kebingungan tatkala berada di daerah yang belum ia kenali. Tentu sahaja ia sangat memerlukan orang yang dapat menunjukkan jalan kepadanya.

Ia bertanya ke sana ke mari, tetapi jawaban yang ia terima adalah, "Saya tidak tahu."

Ia bertanya kepada orang kedua dan orang itu menjawab sambil menunjuk ke suatu arah, "Silakan berjalan terus ke arah itu dan apabila sampai di sebelah sana, maka bertanyalah."

Ia kemudiannya bertanya kepada orang ketiga dan orang itu menjawab, "Mari saya hantar ke tempat tujuan kamu." Kemudian ia menghantarnya hingga sampai ke tujuan.

Orang ketiga inilah orang yang berbuat baik dan meninggalkan kesan yang baik pula di hati orang lain.

Allah swt berfirman :
"Wahai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabb kamu, dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan." (QS Al-Hajj : 77)
Beberapa anak kecil yang bermain di luar rumah di mana mereka berlari-lari dan semakin lama semakin jauh dari rumah mereka. Tatkala tersedar, mereka kebingungan kerana tidak tahu jalan pulang ke rumah mereka.

Seandainya seorang dari mereka tidak menjumpai orang yang dapat menghantarnya pulang, maka cuba kita bayangkan apa yang akan berlaku jika ia terus berjalan dan memasuki tempat-tempat yang ia tidak kenali.

Orang yang kehilangan begnya yang berisi surat-surat penting akan sangat berterima kasih kepada orang yang menemui beg itu dan mengembalikan kepadanya.

Orang-orang yang mahu melaksanakan tugas-tugas ini akan dapat menumbuhkan rasa cinta dan menanamkan nilai-nilai Islam dalam masyarakat dan inilah tugas seorang pendakwah.

KELIMA : Menolong Dengan Segera Orang Yang Memerlukan Pertolongan.

Orang yang ditimpa musibah dan memerlukan pertolongan dengan segera seperti rumahnya terbakar, orang yang tenggelam, orang yang ditimpa bencana dan lain-lainnya, maka dalam keadaan seperti itu kita mesti segera berbuat sesuatu.

Sebuah syair Arab mengatakan ;
“Jangan menunda pertolongan hanya kerana mengharap datangnya bukti Tatkala saudaramu ditimpa musibah yang menghiris hati.”
Tatkala berada dalam keadaan yang berbahaya seperti ini, setiap orang akan benar-benar mengharapkan adanya orang yang mahu menolong. Oleh kerana itu, jika seseorang dalam keadaan seperti itu lalu ada orang yang tampil untuk menolongnya, ini merupakan sifat ‘muru'ah’ dan akan meninggalkan kesan yang amat baik yang tidak akan terhapus dengan bergantinya masa serta akan menumbuhkan rasa cinta dan kasih.

Ada sebuah kisah yang berlaku di sebuah universiti di Mesir di mana seorang mahasiswi yang tidak bertudung sedang berjalan-jalan di halaman fakulti dengan mahasiswi-mahasiswi yang lain yang memakai tudung.

Dengan secara tiba-tiba mahasiswi yang tidak memakai tudung itu jatuh pingsan dan tersungkur ke tanah. Teman-temannya dengan cepat menolongnya.

Setelah ia sedar, ia tercengang kehairanan kerana yang berada di sekitarnya adalah para wanita bertudung lalu ia berkata, "Demi Allah, saya tidak pernah terfikir atau membayangkan sikap kamu begitu baik."

Mungkin ia telah termakan oleh kebohongan-kebohongan yang disebarkan tentang wanita bertudung sehingga ia beranggapan bahawa seorang wanita bertudung tidak mempunyai rasa kasih sayang dan berjiwa sosial.

Allah swt berfirman :
"Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil, lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap." (QS Al-Anbiya' : 18)
Allah swt juga telah menjelaskan tugas dan memberi tunjuk ajar kepada kita :
"Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia." (QS Fushilat : 34)
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan :

"Berbuat baiklah, dan lemparkan kebaikan itu ke dalam lautan."

Tetapi para pendakwah mengatakan :

"Berbuat baiklah kerana Allah, niscaya kebaikan itu akan kembali kepadamu di
dunia mahupun di akhirat.
"
Ya Allah, berilah kekuatan kepada kami untuk kami amalkan sabda-sabda NabiMu sebagai wasilah dakwah yang akan memudahkan kami untuk berinteraksi sesama manusia dengan menanam benih ikatan kemasyarakatan serta menjadi sebab kepada manusia mendapat petunjuk dan hidayah dariMu untuk kembali tunduk dan menyerah diri kepadaMu. Amin..




01 Mac 2011

Wanita Pembentuk Generasi Ahli Syurga

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
"Apabila seorang wanita (isteri) itu telah melakukan sembahyang lima waktu, puasa bulan ramadhan, menjaga maruahnya dan mentaati perintah suaminya, maka dia dijemput di akhirat supaya masuk syurga mengikut pintu mana yang dia suka (mengikut pilihannya)" Riwayat Ahmad.
Begitulah besarnya pahala bagi wanita yang berkahwin. Tidak perlu bersusah-payah untuk keluar rumah seperti kaum lelaki. Hanya dengan duduk di rumah sebagai seorang isteri dan ibu sudah memperolehi pahala yang banyak. Kalau suami redha dengan perlakuan seorang isteri itu maka akan terus masuk syurga tanpa melalui kesukaran. Nikmat ini tidak akan dapat diperolehi oleh wanita yang menolak perkahwinan kerana dia telah menolak untuk menjadi calon wanita solehah yang berada di bawah naungan suami.

Mentaati perintah suami melibatkan soal pendidikan anak-anak. Maka segala yang bersangkutan dengan perkara itu harus diberi perhatian. Hal seperti menjaga kesihatan diri dan anak-anak, menjaga keperluan anak-anak dan menunjukkan contoh yang baik kepada anak-anak. Maka segala perkembangan mengenainya perlu diberi perhatian serius.

Jika semua itu dapat dilakukan oleh semua kaum ibu maka akan terjadilah seperti kata pepatah Melayu "Tangan yang mengayun buaian itu boleh menggoncangkan dunia". Daripada mereka itulah lahir anak bangsa yang merdeka dan berakhlak mulia serta bertanggungjawab. Tidak akan lahir tokoh-tokoh yang hebat di dunia ini jika bukan kerana kasih seorang wanita pada anaknya.

Peranan yang besar ini wajib dilaksanakan oleh kaum wanita dengan bersungguh-sungguh. Di tangan merekalah penentu generasi masa depan sama ada bakal menjadi warga yang berjiwa Islam atau sebaliknya. Atas tanggungjawab itulah mereka layak mendapat jaminan syurga tanpa hisab dan bebas masuk syurga di mana-mana pintu yang mereka sukai seperti yang tersebut dalam hadis di atas.

Begitulah kemuliaan dan penghormatan yang Allah berikan kepada kaum wanita yang amanah, berjaya menunaikan tanggungjawab sebagai isteri dan ibu kepada anak-anaknya. Jika setiap kaum wanita berjaya membentuk individu yang beriman, maka sudah tentu suasana masyarakat juga akan terbentuk sebagai masyarakat Islam yang harmoni dan mentaati perintah Allah.




"Sesungguhnya, bagi kamu pada diri Rasulullah SAW itu model ikutan yang baik, iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredhaan) Allah dan (balasan baik) hari akhirat, serta dia pula banyak menyebut dan mengingati Allah SWT" (Al-Ahzab Ayat 21).

Artikel Terkini

Kongsi Pautan

Assalamualaikum.

Pihak admin mengalu-alukan semua pengunjung blog ini untuk berkongsi sebarang pautan yang memberi manfaat kepada pengunjung yang lain. Semoga segala yang baik itu dapat dipanjang-panjangkan mudah²an menjadi salah satu amal solih di sisi Allah SWT insyaAllah..Terima kasih di atas perkongsian anda ini.




p/s : Sekiranya blog/website anda dalam kategori ini, dipersilakan juga untuk dikongsikan di sini :)

NOTIS PENAFIAN : Laman web www.al-ehsaniah.blogspot.com bukan laman web rasmi bagi Masjid Al-Ehsaniah Kg. Melayu Bt. 16, Rawang. Laman web ini adalah hasil inisiatif sendiri ahli qariah kerana masjid ini masih belum memiliki laman web rasmi sebagai salah satu medium dakwah dan penyampaian maklumat yang agak penting ketika ini. Penggunan istilah Admin di dalam web ini bukan merujuk kepada Pihak Pengurusan Masjid tetapi sekadar merujuk kepada pengurus web ini sahaja. Sekiranya terdapat sebarang aduan/cadangan/maklum balas terhadap masjid melalui laman web ini pihak admin akan memanjangkannya kepada pihak yang sepatutnya. Walau bagaimanapun pihak admin mengingatkan adalah lebih baik berhubung terus dengan pihak Pengurusan Masjid yang sebenar. Sila rujuk direktori pengurusan masjid di laman Organisasi.